Teacher Writing Camp 2012-Ikatan Guru Indonesia, ACER, Guraru

omjay

3 JEJAK BARU

Oleh Steven Sutantro
steven.sutantro@gmail.com
Melangkahkan kaki menuju Teacher Writing Camp di Wisma UNJ merupakan salah satu langkah terbesar dalam kehidupan saya. Terkadang saya tak mengerti, mengapa Tuhan memimpin saya untuk ikut dalam kegiatan ini. Sama halnya dengan pertanyaan yang harus anda ajukan kepada diri anda, mengapa anda perlu membaca tulisan saya ini. Namun, saya menyadari bahwa Tuhan tidak pernah salah menunjukkan jalanNya karena disinilah saya merasakan gejolak kehidupan yang menggoreskan jejak baru yang tidak mungkin akan terhapuskan dan mengubahkan saya untuk selamanya. Mungkin juga lewat membaca tulisan ini, ada juga jejak baru yang akan mengubahkan hidup anda selamanya.
Jejak pertama yang menggores hati saya adalah jejak kesempatan menjadi yang termuda. Jejak ini telah menghapus jejak kaki yang sebelumnya mengatakan bahwa kelemahan menjadi yang termuda. Peserta termuda. Itulah kesan pertama saya menginjakan kaki di Teacher Writing Camp yang diadakan di Wisma UNJ. Nama saya, Steven. Saya memang baru tahun lalu lulus dari Universitas Pelita Harapan Jurusan Pendidikan dan menjadi guru SMA Dian Harapan di Daan Mogot. Entah untuk kesekian kalinya, saya merasa saya yang paling muda di antara rekan-rekan peserta bahkan dengan teman-teman yang pergi bersama saya dari sekolah. Kegusaran, kegelisahan, kekuatiran seringkali melanda hati saya untuk datang ke seminar-seminar pendidikan seperti ini. Alasannya, saya masih terlalu muda, kurang pengalaman, kurang wawasan, kurang pengetahuan dan pergaulan di ranah pendidikan. Apalagi, kali ini saya bertemu dengan rekan-rekan guru, dosen, bahkan pekerja sosial yang memiliki segudang pengalaman dan kisah-kisah menarik tentang karyanya dalam dunia pendidikan melalui media sosial. Namun, satu hal luar biasa yang saya temukan disini adalah kerendahanhati dan semangat belajar dari peserta Camp ini. Kemauan mereka untuk menyapa, mengajak berbicara, bahkan bertukar pikiran dengan pemuda seperti saya merupakan salah satu hal terbaik yang saya temukan disini. Bahkan, beberapa guru yang lebih senior dengan penuh semangat bertanya kepada saya tentang kehidupan dan pengalaman saya yang begitu terbatas. Tidak hanya peserta, tetapi juga pembicara, panitia yang ikut berbaur dalam melayani kami para peserta. Dengan selera humor dan suasana santai, Camp ini mengajak peserta untuk secara otomatis bergabung menjadi bagian dari keluarga yang punya satu tujuan: MAU BELAJAR. Pada titik inilah, saya merasa gap pembelajaran, pekerjaan, pengalaman yang terkesan memisahkan saya dengan peserta dan panitia lain runtuh seketika. Saya merasa disambut sebagai rekan belajar mereka. Hal inilah yang menghilangkan ketidakpercayaan diri saya sebagai guru termuda di Camp ini. Saya merasa usia bukanlah jurang pemisah untuk belajar dan berjejaring. Asal punya minat dan semangat yang sama, usia berapapun bukanlah penghalang. Kini, kelemahan menjadi pemuda telah sirna diganti dengan suatu kekuatan baru yang menginspirasi saya untuk melihat berbagai kesempatan yang ada di hadapan saya untuk berkarya bagi bangsa ini. Keterbukaan dan kehangatan yang diberikan kepada rekan peserta yang umurnya jauh di atas saya membukakan mata hati saya untuk tidak lagi segan dan malu terhadap keterbatasan usia, pengetahuan, dan pengalaman saya. Tetapi justru di usia mudalah kehidupan saya semakin bermakna bagi dunia. Disinilah saya mengawali mimpi dan langkah nyata untuk menulis.
Jejak kedua yang mencelikkan mata saya adalah jejak “media jejaring sosial, bagian kehidupan saya.” Sebelum mengikuti seminar ini, saya memadang media jejaring sosial adalah sekedar bagian dari hiburan saya ketika jenuh. Saya sering hanya mengupdate informasi di twitter, facebook, dan juga menonton video di YouTube. Namun, jejak ini langsung dilunturkan oleh jejak baru yang mengubah total persepktif saya tentang media jejering sosial. Disinilah, saya merasakan bahwa sosial media merupakan senjata terkuat dalam kehidupan ini. Di sekolah saya, media sosial seringkali dianggap kurang relevan dalam pendidikan. Di Camp ini, untuk pertama kalinya, saya melihat bahwa media sosial justru menjadi kekuatan dalam dunia pendidikan. Ternyata, sudah banyak guru, dosen, bahkan pekerja sosial yang mau dengan rendah hati dan penuh semangat belajar menggunakannya untuk kehidupan mereka. Saya juga senang sekali dengan sambutan pembicara dan panitia yang tidak sungkan-sungkan berbagi twitter, kompasiana, dan media jejaring sosial yang mereka miliki. Tidak berhenti sampai disitu, baru kali ini saya mengikuti seminar dimana pembicara dan panitia justru mendorong kita menggunakan hp dan laptop untuk membagikan pengalaman kita secara live lewat twitter. Saya sempat berpikir, apakah mereka tidak terganggu nantinya, apakah peserta akan kehilangan konsentrasi. Namun, yang saya temukan justru terbalik. Disini semua peserta justru semakin antusias membagikan kicauan twitter yang inspiratif dan menarik tentang acara ini. Dengan mengaktifkan penggunaan media sosial, saya semakin mengenal siapa teman-teman peserta. Saya jadi semakin mengenal latar belakang, kisah, dan juga mimpi yang hebat dari peserta yang menginspirasi saya. Saya merasakan justru media jejaring sosial ini adalah nafas kehidupan dari acara ini. Disinilah, sebuah mimpi besar lahir untuk menghidupkan penggunaan jejaring sosial di kelas yang saya ajar. Jejak inilah yang « menendang » saya untuk membuat perubahan sosial di dunia maya yang juga akan berdampak pada dunia nyata. Jejak ini membuka mata saya untuk mulai membagikan pikiran saya melalui jemari saya yang akan menuliskan banyak hal yang inspiratif di Twitter, Facebook, dan blog. Jejak inilah yang mengawali perjalanan saya untuk mewariskan kehidupan saya melalui tulisan-tulisan inspiratif yang dapat berdampak bagi dunia ini kelak di masa yang akan datang. Saya pun berjanji mulai tahun depan, saya akan mewarnai dunia maya melalui tulisan saya dan murid saya melalui twitter, edmodo, facebook, pinterest, youtube, blog yang tentunya akan memberikan makna dan inspirasi bagi kehidupan banyak orang.
Jejak ketiga yang mengubah hidup saya adalah jejak sejuta pengalaman, sejuta impian. Memang dalam camp yang padat ini, ada kurang lebih 5 sesi yang membagikan pengetahuan dan juga wawasan baru tentang menulis. Namun, menurut saya, setiap sesi tidak sekedar mentransfer ilmu baru tetapi juga sejuta pengalaman-pengalaman yang menarik baik dari pembicara, panitia, dan juga peserta. Jelas sekali, pembicara ini memang mungkin ada yang belum s1, s2, bahkan sampai s3 tetapi yang saya suka adalah mereka membagikan pengalaman dengan sikap hati yang menantang saya untuk merefleksikan diri akan apa yang telah mereka bagikan. Pengalaman-pengalaman yang relevan di dunia media sosial, pendidikan, dan karya tulis menjadikan saya tidak lagi melihat mereka karena gelar yang mereka miliki tetapi apa yang telah mereka lakukan bagi dunia ini. Namun, tidak hanya sejuta pengalaman yang saya pelajari, sejuta impian yang dibagikan pembicara juga telah membukakan mata saya bahwa impian menjadi seorang pembaca dan penulis itu bukanlah mustahil untuk diwujudkan. Sejuta impian peserta yang ingin mewujudkan Indonesia lebih baik inilah yang membuat mata, hati, pikiran saya tidak dapat berpaling sedikitpun di sesi-sesi ini. Saya akan membagikan sedikit dari sejuta pengalaman dan impian yang saya dapat di Camp ini. Pengalaman pertama adalah cerita dari seorang ahli TIK yang membagikan pengalamannya menggunakan twitter untuk meringkas materi, membagikan refleksi, dan juga memberikan saran dan masukan yang membangun. Ada juga pengalaman nyata seorang penulis yang memulai tulisannya dengan satu kata : TULIS SEKARANG ! Saya belajar bahwa menulis bukan cuma sekedar kegiatan selingan semata tetapi merekam jejak kehidupan. Ditambah, cita-cita pembicara yang ingin menjadikan tulisannya sebagai warisan ketika ia meninggal bukan hanya untuk anak cucunya saja, tetapi seluruh dunia. Pertanyaan reflektif pun seakan menampar saya, « Sudah berapa karya yang saya ciptakan selama anda mengajar? Setelah itu, ada juga pengalaman seorang guru SD yang memberikan pembelajaran abad 21 melalui contoh proyek nyata yang mengintegrasikan teknologi, berbagai mata pelajaran, dan juga keahlian yang menghasilkan pembelajaran aktif dan kreatif. Esok harinya, sebuah mimpi yang besar mengawali sesi hari itu. Mimpi itu simpel, mengubah tradisi kelisanan menjadi tradisi literasi untuk generasi muda. Namun ternyata impian sederhana itu bukanlah mudah. Di tengah generasi kita yang terus menerus tergerus oleh perkembangan pesat media, tentu bukan pekerjaan mudah untuk mengubah mereka menajdi suka membaca. Kemustahilahan itu pun hanya bisa wujudkan dengan langkah awal yang nyata dengan pengalaman nyata si pembicara yang menyediakan waktu membaca di sekolah selama 30 menit sebelum masuk pelajaran. Sungguh indahnya impian yang dimulai dengan langkah nyata. Belum selesai saya terpukau dengan pengalaman dan impian pembicara-pembicara sebelumnya, pembicara lain membuat saya terpukau dengan pengalaman nyatanya menulis setiap hari dan membagikannya secara gratis lewat email. Keluarga, usia, pekerjaan bukanlah rintangan untuknya menerbitkan buku berkualitas dan berdampak bagi orang-orang sekitarnya. Selagi tercengang-cengang dengan pembicara tersebut, saya pun dikejutkan dengan pengalaman seorang nenek yang di tengah keterbetasannya menjadi TERORIS yaitu Teror Penulis. ‘TEROR’ yang dilakukan sudah sampai menembus batas negara dengan mendorong dan menginspirasi para TKI dan TKW membagikan kehidupan mereka lewat tulisannya. Betapa mulianya impian nenek ini yang di tengah keterbatasan fisiknya, ia mampu menciptakan pengaruh yang menembus batas-batas negara untuk meneror setiap orang untuk menulis. Tidak hanya pembicara, tetapi lewat pertanyaan dan respon yang interaktif, saya belajar dari kegagalan, kejatuhan, kekurangan yang dialami baik peserta maupun pembicara. Lebih dari pada itu, saya belajar bahwa kekurangan, keterbatasan, kesalahan yang pernah dibuat adalah guru menulis yang paling efektif dalam menelurkan karya terbaiknya. DI sesi terakhir, saya merasakan hal itu. Saya mempraktekkan membuat tulisan fiksi yang saya yakin jauh dari sempurna. Namun, saya menyadari pengalaman menulis itu merupakan titik awal keberhasilan saya untuk memulai sebuah tulisan. Kini, berbekal sejuta pengalaman dan sejuta mimpi yang mungkin belum tertuang disini, saya optimis dapat memulai pengalaman menulis dan mimpi untuk berbagi dan ‘meneror’ banyak jiwa untuk memiliki pengalaman menulis dan mimpi yang sama.
Teacher Writing Camp memang telah mentransformasi kehidupan saya dengan 3 jejak-jejak baru di atas. Momen ini telah membuat saya sadar bahwa menjadi muda bukanlah suatu kekurangan atau kelemahan, tetapi justru merupakan suatu kesempatan untuk berkarya, kemudian media jejaring sosial bukan sekedar hiburan semata, tetapi kekuatan untuk memulai jutaan pengalaman dan jutaan impian baru saya.. Kini hati saya telah digoreskan dengan 3 jejak yang tak akan terhapuskan. Pada akhirnya, apakah ada jejak baru yang mengubahkan kehidupan anda setelah membaca tulisan ini ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s