Workshop Presenters ICHEC 2013-UPH

The Journey has’t ended yet!

IMG_20131109_164004[1]

Pembelajaran kerendahan hati belum berakhir setelah paper saya dikumpulkan. Justru dalam mengikuti konferensi, Tuhan semakin banyak mengajarkan saya untuk masuk dalam proses hidup yang mendewasakan saya. Tibalah saatnya saya mempersiapkan presentasi untuk paper saya dalam salah satu sesi workshop di konferensi. Pada awalnya, saya berpikir saya sudah berhasil menempuh berbagai hal dalam penulisan paper, pasti saya akan berhasil mendesain presentasi yang lebih baik, namun kenyataannya ternyata presentasi juga menguak tantangan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Pertama, saya harus menyiapkan presentasi 30 menit dihadapan peserta yang ternyata adalah dosen saya sendiri, rekan-rekan Teacher College dan rekan dari tim Professional Development di sekolah saya serta tamu internasional yang bisa saja masuk di workshop saya. Jujur, pertama kali saya terkejut mendengar hal ini. Saya harus mempresentasikan dihadapan orang-orang yang menilai saya sebagai alumni UPH. Meski mereka memberikan semangat dan dukungan yang sangat berarti bagi saya pada saat itu, rasa nervous tetap saya membayangi presentasi saya. Kedua, saya tidak menyangka di antara sekian banyak presenter workshop dan paper, saya adalah satu-satunya guru yang mempresentasikan karya saya. Sebagian besar dosen dari Biola, Corban, dan juga Universitas Pelita Harapan yang pastinya memiliki gelar dan pengalaman yang jauh dibandingkan saya. Bukannya saya berbangga, tetapi jujur pada saat itu, saya takut luar biasa, jangan-jangan presentasi saya akan kebanting dengan presentasi mereka. Apa yang akan dikatakan mereka tentang presentasi saya dan berbagai bayang-bayang ketakutan muncul sebelum hari H presentasi tiba. Kedua hal inilah yang membuat saya semakin ‘gila’ dalam mempersiapkan presentasi ini.

Saya pun menghabiskan waktu saya di rumah untuk latihan berkali-kali secara pribadi. Namun seringkali justru, saya gagal dan melakukan berbagai kesalahan baik kata maupun isi materi. Sempat saya merasa bahwa saya benar-benar sulit mempresentasikan hal ini. Saya smpat merasa setiap saya latihan, saya gagak karena tidak pernah lancar. Di tengah lembah kekelaman itulah, saya menghubungi berbagai teman saya untuk membantu. Dengan kerendahan hati, saya pun minta beberapa rekan saya mendengar presentasi saya dan menilai hasilnya. Saya juga mau mengucapkan terima kasih atas segala dukungan baik berupa waktu, masukan, serta pujian yang teman-teman saya berikan dalam mendengarkan presentasi saya. Waktu yang mereka habiskan untuk saya membuat saya bangkit dari ketakutan saya untuk maju melangkah di konferensi ini. Berikut adalah tips yang paling berkesan dari teman-teman saya ternyata bukanlah tentang desain atau teknis presentasi yang teoritis tetapi justru yang paling bermakna dan berharga:

1. Bagikan keunikan, cerita, serta pengalaman yang membuat presentasi kamu bukan lagi sekumpulan teori tetapi satu keunikan pengalaman yang membuka wawasan orang lain,

2. Semangat dan emosi dalam mempromosikan paper ini sangat penting supaya orang pun tertular semangat yang kamu miliki.

3. Orang yang benar-benar hebat dan pintar tidak akan menjatuhkan kamu karena gelar, pengalaman, tapi orang yang benar-benar pintar akan terbuka mengapresiasi ide dan menghargai keunikan yang kamu miliki dengan pertanyaan kritis yang membantu kamu mempertajam paper.

4. Sekalipun kamu gagal dalam presentasi ini, kamu tidak gagal sebagai diri kamu. Kamu tetap berharga dimata Allah. Apapun yang terjadi, kamu akan tetap maju dengan kepala tegak, bukan tertunduk

Keempat tips ini saya dapat dari 4 teman saya yang memberikan waktu mereka dan sekali lagi tips inilah yang benar-benar mengubah cara pandang saya untuk selamanya.

mtf_EhcSq_196[1]

Sampai hari terakhir sebelum presentasi, saya mencoba menenangkan diri saya dengan menonton Monster University di laptop dan ternyata saya mendapat pesan berharga yang sangat relevan untuk presentasi saya.

Dalam cerita itu, ada monster bernama Mike yang sama sekali tidak menakutkan (no fear at all) dengan tekun kuliah untuk lulus dalam jurusan Scarer (Keahlian menakuti) Ia dengan gila belajar mati-matian untuk menguasai pelajaran tersebut. Ia pun diamati terus oleh Monster lain bernama Sullivan yang lebih menakutkan dibandig Mike yang akhirnya menjadi teman akrab yang mendorong Mike untuk terus maju. Hingga, akhirnya Mike pun mengikuti kompetisi Scarer bersama teman-teman yang sama sekali tidak menakutkan dan dicap underdog oleh teman-temannya. Namun, semangat Mike tidak pernah sedikitpun luntur hingga akhirnya ia berhasil masuk final, namun sesungguhnya kalah dalam final tersebut. Kekalahan itu membuat Mike masuk ke sebuah tantangan dunia nyata yang membawanya dan Sullivan melanggar peraturan kampus dan harus dikeluarkan. Namun, dekan Scarer pun mengakui keberanian mereka melanggar peraturan untuk menjadi Scarer di dunia nyata. Sampai di akhir film, Sullivan mengeluarkan kata-kata terdalamnya pada Mike yang membuka mata saya:

“Mike, You are not Scary, but you are fearless.”

Hal inilah yang mendorong Sullivan bergabung dengan Mike untuk menjadi fearless di dunia nyata menjadi The Real Scarer.Saya bisa membayangkan betapa miripnya saya dengan Mike pada saat itu. Underdog, not scary, lack of experience, tapi punya fearless spirit yang gag takut menghadapi tantangan, masalah, bahkan kegagalan di sekitar. Kata lainnya, muka tembok dan mau terus berjuang meski gagal berkali-kali. Saya rasa gag peduli seberapa lemahnya saya, saya cm bertekad menjadi orang yang fearless untuk berjuang menghadapinya.

Di hari-hari mendekati  presentasi, saya terserang diare yang membuat saya lemas hingga sulit beraktivitas. Saya jadi ingat masa dimana saya juga mengikuti Olimpiade Ilmu Sosial dimana saya terserang sakit gigi yang justru membuat saya sukses dalam lomba guru (Untuk mengikuti kesaksian saya di Olimpiade Ilmu Sosial, anda dapat melihat di link ini http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/12/30/sakit-gigi-termanis-saya-520059.html.) Saya sadar diare ini juga akan Tuhan pakai untuk menguatkan saya dengan kuasaNya. Saya rasa dengan sakit yang saya alami di tengah situasi genting ini, semuanya menyadarkan saya bahwa Tuhanlah yang berdaulat dalam situasi genting ini. Di tengah kelemahan fisik ini, saya juga disadarkan dengan lirik lagu ‘The Climb’ yang memberi saya semangat untuk bangkit lagi.

I can almost see it
That dream I am dreaming
But there’s a voice inside my head saying
You’ll never reach it

Every step I’m taking
Every move I make feels
Lost with no direction
My faith is shaking

But I gotta keep trying
Gotta keep my head held high

There’s always gonna be another mountain
I’m always gonna wanna make it move
Always gonna be an uphill battle
Sometimes I’m gonna have to lose

Ain’t about how fast I get there
Ain’t about what’s waiting on the other side
It’s the climb

The struggles I’m facing
The chances I’m taking
Sometimes might knock me down
But no, I’m not breaking

I may not know it
But these are the moments that
I’m gonna remember most, yeah
Just gotta keep going

And I, I got to be strong
Just keep pushing on

‘Cause there’s always gonna be another mountain
I’m always gonna wanna make it move
Always gonna be a uphill battle
Sometimes I’m gonna have to lose

Ain’t about how fast I get there
Ain’t about what’s waiting on the other side
It’s the climb, yeah!

There’s always gonna be another mountain
I’m always gonna wanna make it move
Always gonna be an uphill battle
Somebody’s gonna have to lose

Ain’t about how fast I get there
Ain’t about what’s waiting on the other side
It’s the climb, yeah!

Keep on moving, keep climbing
Keep the faith, baby
It’s all about, it’s all about the climb
Keep the faith, keep your faith, oh oh oh whoa

IMG_20131107_172937[1]

Tibalah saatnya dimana saya datang di konferensi. Dengan sesi paralel discussion yang saya ikuti sebelumnya, saya pun mengamati cara keynote speaker ini mempresentasikan riset mereka. Ternyata banyak hal yang saya temukan dari sesi ini. Saya belajar betapa pentingnya membahas WHY atau Mengapa kita melakukan apa yang sedang kita lakukan sekarang ini. Pada umumnya, memang sesi ini membahas hal-hal abstrak yang menjabarkan dasar-dasar filosofis dunia pendidikan.  Secara keseluruhan, memang sesi keynote speaker ini membuka wawasan yang lebih mendalam, hanya justru saya rasa karena semuanya orang bule alias dari luar negeri dengan gelar Ph.D yang jauh berpengalaman, saya rasa ada beberapa saat dimana justru mereka perlu memberikan aplikasi yang relevan dan kontekstual dari materi yang dibawakan bagi dunia pendidikan Indonesia.

Kemudian, setelah mengikuti berbagai sesi keynote speakers, saya juga mengikuti sesi workshop dari dosen-dosen luar negeri dan juga dalam negeri. Ternyata setelah saya mengikuti workshop tersebut, saya belajar ternyata ide yang dibawakan sangat simpel dan menarik. Sebagian besar menceritakan pengalaman mereka dengan etika, media sosial, dan juga mencoba berbagai macam model pembelajaran. Kekuatiran saya akan betapa simpelnya paper saya terhapus sejak saya mengikuti workshop mereka. Ternyata bukan ide yang wah dan heboh yang bisa dipresentasikan, tetapi justru dlm simplicitas dan aplikasi yang bermakna, disanalah saya belajar betapa pentingnya workshop ini. Sebelum saya mempresentasikan paper saya, saya juga menyimak presentasi dari dosen dari UPH yang juga memiliki semangat belajar yang luar biasa. Saya terkagum dengan kerendahanhati dan kesederhanaan presentasi mereka yang dibawakan dengan interaktif dan menarik. Disitu menjadi titik balik yang menyadarkan saya bahwa presentasi workshop ini bukanlah hal yang serumit yang saya pikirkan. Di dalam kesederhanaan dan semangat belajar dan berbagi, saya justru belajar untuk lebih relax, santai, dan have fun. Justru ketegangan saya di 1 jam sebelum presentasi langung menurun drastis dan membuat saya menjadi sangat tenang dan relaks dlm membawakan materi.

IMG_20131108_125101[1]

Tibalah saat saya membawakan materi. Saya pun menjelaskan mulai dari latar belakang paper saya yang didasari pentingnya melibatkan siswa dalam melakukan mandat budaya menghargai dan mengelola ciptaan Allah. Setelah itu, saya pun menjelaskan pentingnya media sosial dalam menolong siswa untuk AWARE, CARE, and SHARE agar mereka mampu berpikir kreatif mengelola lingkungan yang ada di sekitar mereka. Saya juga memberikan langkah-langkah praktis bagaimana saya menggunakan twitter di kelas geografi saya untuk membuat siswa berpikir kreatif. Saya pun menunjukkan hasil yang saya temukan berupa kelancaran, orisinalitas, fleksibilitas, serta kemampuan elaborasi dalam diri siswa yang menjadi indikator berpikir kreatif siswa. Hingga saya juga membukakan hal-hal yang saya rekomendasikan kepada peserta workshop untuk mengembangkan penggunaan media sosial lebih baik di kelas mereka.Demikian saya akhirnya berhasil menyampaikan presentasi paper saya di workshop ini.

Saya betul-betul menghargai setiap peserta baik dosen, mahasiswa, maupun tim dari SDH dan dari Faculty of Nursing serta semua teman-teman yang bisa hadir dlm workshop ini. Saat saya membawakan materi, ternyata kehadiran mereka justru membuat saya merasa lebih tenang dan relax dan hal inilah yang membantu saya membawakan materi dengan semangat yang membara. 30 menit  presentasi sangat berjalan lancar jauh lebih baik dibandingkan latihan saya di rumah maupun di sekolah yang sangat terbata-bata. Saya tidak menyangka saya bisa selancar itu dlm mempresentasikan paper saya dengan begitu mudah. Entah kenapa, saya cenderung terkesan seperti mengobrol dengan setiap dari peserta dengan santai. Sungguh kuasa dan sukacita Tuhan yang menguasai hati dan pikiran saya saat itu. Tibalah sesi tanya jawab yang dulunya saya pikir paling menakutkan. Tetapi justru disitulah, saya melihat tangan Tuhan bekerja di dalam keterbatasan saya.

Sekali lagi saya bersyukur Tuhan kirimkan peserta workshop yang sangat koperatif. Mereka adalah orang-orang yang kritis yang mengajukan pertanyaan dengan tujuan membangun bukan justru menjatuhkan saya. Saya menghargai setiap pertanyaan dari dosen Uph,tim Sdh, mahasiswa uph, dan rekan-rekan yang mempertajam presentasi saya. Bahkan, teman-teman faculty of nursing juga membantu memberikan wawasan yang menarik tentang pentingnya penguasaan teknologi bagi seorang guru. Saya menghargai setiap partisipasi aktif yang berlangsung selama 20 menit dalam kelas workshop tersebut yang mendiskusikan pro kontra social media yang ternyata bisa diarahkan ke hal-hal yang positif dan bermanfaat.

1

Pada akhirnya memang dalam konferensi ini tidak ada menang atau kalah,namun secara pribadi saya bisa mengatakan saya menang melewati perjalanan menuju konferensi ini yang penuh dengan tantangan untuk keluar dari zona nyaman. Setelah dari konferensi ini, saya menyadari konferensi bukan hanya milik orang-orang dari luar negeri yang bergelar tinggi.Ternyata orang Indonesia, bahkan guru seperti saya yang baru lulus 2 tahun lalu juga memiliki kesempatan yang sama mengikuti konferensi ini. Setelah saya amati, sebenarnya bukanlah kepintaran, gelar, dan pengalaman bertahun-tahun yang membawa orang dari luar negeri tersebut datang membawakan workshop. Jika dilihat secara materi, mereka sebenarnya membagikan materi yang simpel, sederhana, dan orisinil dan saya yakin orang Indonesia juga bisa. Sayangnya, banyak dari guru dan orang Indonesia kurang Percaya Diri, takut gagal, dan kurang dilatih menulis paper serta presentasi. Padahal seperti Firman Tuhan berkata dalam 2 Timotius 1:7  Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Dalam bahasa Inggris, artinya lebih mendalam karena Tuhan memberikan POWER+LOVE+SELF DISCIPLINE not the SPIRIT OF TIMIDITY. Seringkali kita terutama saya terjebak dalam spirit of timidity yang bisa saja membuat kita justru powerless dimana kita menjadi gag PD, Takut, ciut, juga menjadi unloved dimana kita menjadi minder,arogan, egois, tidak mah bertanya, dan tidak punya self discipline dimana kita gag mau berjuang, berkorban, rendah hati bertanya. Melalui setiap proses yang saya alami dalam konferensi ini, saya percaya Tuhan sedang membentuk hidup saya memiliki POWER+LOVE+SELF DISCIPLINE yang memampukan saya melakukan segala perkara di dalam DIA yang memberikan kekuatan kepada saya. Saya percaya kalau kita memiliki ketiga hal ini, kita juga pasti bisa menjadi lebih PD, rendah hati, dan mau belajar untuk bisa ikut dalam memajukan dunia pendidikan Indonesia dengan menuliskan paper dan membagikan pengalaman kita di konferensi-konferensi untuk kemuliaan Tuhan.

To God be the glory!

Now, saya berharap para pembaca tidak sekedar melihat hasil akhir dari konferensi ini. Jika sekedar melihat paragraf akhir dari post ini, saya rasa anda justru kehilangan best part of it. Bagian terbaik dari konferensi ini bukan keberhasilan saya dalam mempresentasikan papernya. Justru bagian terbaiknya adalah ketika saya melewati journey of faith ini. Saya percaya melalui post ini anda akan semakin melihat bagaimana kuasa Tuhan bekerja dalam your best life journey!

Feel free to share this article and give comment by mention my twitter @StevenSutantro

God bless you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s