Pertanyaan Tiada Akhir tentang UN

Sejak mengikuti Ujian Nasional di SMA, sampai kini saya menjadi guru salah satu mata pelajaran Ujian Nasional, hingga kemarin saya menjadi pengawas silang Ujian Nasional, entah kenapa banyak pertanyaan yang beredar di kepala saya tentang Ujian Nasional.

Saya berharap rekan-rekan pendidik, siswa, guru, bahkan siapapun bisa membantu saya menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

Waktu saya duduk sebagai siswa SMA, Dulu jaman saya, UN masih hanya 3 pelajaran: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris. Sedangkan yang lain berupa Ujian Sekolah. Saya ikut bimbel untuk mendalami ketiga mata pelajaran ini berbulan-bulan. Try Out demi try out saya lewati. Sampai-sampai saya jenuh dan bertanya-tanya

1. Mengapa masa-masa akhir SMA saya diisi dengan mengerjakan soal-soal UN?

Sejak semester 1 sudah ada Pelajaran Tambahan, semester 2 , sekolah udah seperti bimbel yang kerjaannya memberi soal, bahas, soal, bahas.  Apakah ini masa akhir SMA? Haruskah hidup pernuh dengan soal-soal UN? Kenapa harus dengan soal UN?

2. Apakah tidak ada hal yang lebih menantang dari soal UN?

Pertanyaan ini terkesan sombong. Hanya di masa akhir SMA, saya justru bingung karena tiap hari ketemu soal-soal yang ITU-ITU aja. Hidup ini dinamis dan penuh tantangan yang lebih dari sekedar soal 1-50 di soal UN. Apakah tidak ada tantangan yang lebih menarik dibanding soal UN di kelas 12?

3. Bagaimana UN membantu saya dalam memilih jurusan kuliah?

Masa kelas 12 adalah masa terpenting dalam kehidupan karena disinilah anda akan memutuskan untuk mendaftar kuliah, memilih jurusan, dan berbagai keputusan terpenting untuk menggapai cita-citamu. Lalu, saya bertanya, apa dengan belajar Math, English, Bahasa Indonesia membantu saya memilih jurusan kuliah?

Waktu Saya menjadi Guru salah satu Mapel UN SMA dan Pengawas Silang UN SMA.

Tahun lalu, saya dipercayakan menjadi guru mapel UN SMA.Namun, justru pertanyaan tentang UN semakin berbuah banyak.

1. Apakah Mata Pelajaran saya harus diakhiri dengan UN?

Saya mengajar Geografi kelas 12 IPS dan saya sempat berpikir bahwa pelajaran ini begitu dinamis, menarik, dan penuh dengan berbagai aktivitas menarik. Entah kenapa di kelas 12, malah semua gemilang dan kemilau mata pelajaran ini sirna dengan soal-soal yang ditumpahkan sejak semester 1. Saya pun bertanya-tanya: Apakah mata pelajaran saya harus ditutup dengan soal-soal UN? Begitukah cara saya menutup mata pelajaran yang penuh dengan perubahan yang dapat dieksplorasi lebih jauh?

2. Bagaimana UN membuat siswa saya “JATUH CINTA” dengan mata pelajaran saya?

Semakin hari mendekati UN, justru semakin siswa saya ‘tampak’ lelah dan muak dengan soal, jawab, dan bahas. Saya membayangkan kalau saya sebarkan kuesioner Apakah kalian semakin suka dengan Geografi dengan soal-soal UN. Bagaimana jawaban siswa saya? Apakah mereka semakin SUKA dengan pelajaran ini? Apakah setelah mengerjakan soal-soal UN ini mereka semakin ingin mendalami pelajaran saya setelah UN? Apakah mereka menyukai pelajaran ini dengan adanya soal-soal UN?

3. Apakah UN mempersiapkan siswa saya untuk kuliah?

Sebagian besar siswa di sekolah saya memang mengambil Universitas swasta di Jakarta. Banyak dari mereka yang bertanya. “Pak, Kalau di kuliah atau di kerjaan, apakah kami akan mengerjakan soal-soal UN seperti ini? hmm…saya langsung dengan spontan menjawab. “Tidak” , Lalu mereka bertanya lagi, “Lalu kenapa kami harus mengerjakan soal-soal ini sebelum masuk kuliah?” Hmmm…jawabannya sih bervariasi sebenarnya. Buat SMPTN, Ujian PNS, persiapan TOEFL, SAT dkk. Namun, saya benar-benar merefleksikan apakah dunia kuliah dan kerja dipenuhi soal-soal seperti itu saja?

Akhirnya, sejak menjadi siswa sampai sekarang menjadi guru UN, semakin lama saya belajar ilmu pendidikan, justru semakin banyak pertanyaan yang timbul terhadap UN. Saya pun berpikir apakah perancang UN tidak mengajukan pertanyaan yang sama ya?

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. Ameliasari says:

    Gimana ya cara memberi pencerahan penyelenggara UN… 😦
    sudah cacat hukum, bocor disana sini…

  2. Made Hery Santosa says:

    Pertanyaan-pertanyaan ini memang muncul dari dulu, dari tes sebagai alat ukur kemampuan. Sepanjang standarisasi melalui skor (angka) masih diadakan, tujuan belajar akan jadi short-term saja. Ini sudah akumulasi masalah-masalah bangsa. Sayangnya memang decision makers buta tuli. Kita mmg tidak akan bisa menyelesaikan semuanya. Pilihan terbaik, mulai dari sendiri. Coba lakukan terobosan, misal portfolio (atau e-portfolio). Ini ada plus minus kawan. Dan berat. Tapi dari sana kita bisa refleksi. Semoga berkenan :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s