The Journey of Inside Out

Tangkapan layar 2014-03-15 20.51.17

Sabtu lalu, saya diminta untuk mengisi sesi di Christian Leadership Training di Universitas Pelita Harapan dengan tema “Surpassing Your Limitation”. Sesi saya berjudul “Inside Out” yang menantang para calon pemimpin mahasiswa UPH Teachers College untuk berani keluar dari keterbatasannya untuk melangkah menjadi dampak bagi lingkungan sekitar. Saya pribadi bersyukur dan merasa betul-betul suatu kehormatan bisa berdiri di hadapan calon pendidik generasi masa depan yang juga akan menjadi pemimpin yang membawa generasi ini maju ke depan.

Pertama kali datang, saya masih ingat bagaimana saya juga duduk di posisi mereka sebagai peserta dan panitia Christian Leadership Training 3 tahun lalu. Namun, terlebih lagi, saya kagum dengan semangat, antusiasme, dan kekompakan peserta maupun panitia yang memberikan yang terbaik dalam kegiatan ini. Meskipun sesi saya mulai pukul 10.00, saya sengaja datang pagi-pagi pukul 07.30 pagi untuk mengikuti sesi 1 yang akan dibawakan Ibu Connie Rasilim, mantan dekan UPH TC yang selalu menginspirasi saya sejak mahasiswa. Melalui sesi 1 yang menjabarkan makna menjadi seorang pemimpin, saya kembali diingatkan pentingnya INTEGRITAS sebagai karakter utama seorang pemimpin. Saya pribadi menyadari banyak hal yang harus saya pelajari untuk menjadi pemimpin yang berINTEGRITAS  hingga kini. Saya mencatat poin-poin penting dari sesi tersebut di twitter saya dengan menggunakan #TCCLT2014.

Sebelum sesi saya dimulai, saya menampilkan hashtag #TCCLT2014 lewat visible tweets. Saat istirahat singkat, para peserta dapat diingatkan kembali poin-poin penting yang perlu mereka pelajari dari sesi sebelumnya. Pada awal sesi saya, saya menantang peserta melakukan hal yang sama setelah mereka kembali ke asrama mereka untuk mentweet poin-poin penting yang saya sampaikan di sesi saya dengan menggunakan #TCCLT2014. Saya minta mereka mencatat poin-poin penting tersebut dan menguploadnya nanti pada saat kembali dari training.

Setelah MC membacakan CV saya, Sesi “Inside Out” pun dimulai.  Saya memberikan tambahan judul “The Journey of Inside Out” karena saya berkata pada mereka,

“Kalian boleh lupa semua prestasi, proyek, aktivitas, pengalaman kerja, dan berbagai hal yang ada di CV saya. Tapi jangan lupakan PERJALANAN meraihnya. Oleh sebab itu judul dari sesi ini “The Journey of Inside Out” Perjalanan dari Dalam ke Luar.”

Disini sebenarnya saya lebih membagikan hidup dan pengalaman nyata saya menghidupi The Journey of Inside Out yang saya lakukan selama menjadi guru. Setelah memahami makna menjadi pemimpin, saya menantang mahasiswa untuk menjalani hidup Inside Out. Ada 4 hal yang saya lakukan dalam menjalani Inside Out:

 1. Learning

Buta huruf di abad 21 bukan orang yang tidak bisa nulis atau baca. Buta huruf abad 21 adalah orang yang tidak mau belajar. Itulah yang saya tegaskan kepada mahasiswa. Modal awal untuk Go Out adalah keinginan belajar. Jangan sampai kita tidak mau belajar karena akibatnya justru akan membuat kita sebenarnya stop mengajar.

Belajar bisa dilakukan dimana saja. Banyak orang yang bilang belajarlah dari pengalaman. Saya pribadi menentang keras hal ini karena menurut saya jangan belajar dari pengalaman, karena orang yang belajar dari pengalaman akan cenderung bangga dengan pengalamannya. Padahal yang harus kita banggakan bukan pengalamannya tapi belajar dari refleksi pengalamannya. Seperti yang dikatakan John Dewey di bawah ini.

Belajar bisa dilakukan lewat refleksi, ikut organisasi, panitia, dan salah satunya personal professional development. Dimana kita sendiri yang menciptakan personal professional development yang berdampak positif bagi hidup kita. Salah satunya seperti yang saya lakukan dengan ikutan course gratis yang dapat kamu akses di  www.coursera.org  Banyak course gratis dan berkualitas yang dapat kamu pelajari.

2.Networking

Seperti kata mutiara di atas, saya percaya kita perlu punya mejaga networking dan relasi TERUTAMA dengan orang-orang yang dedikasinya menginspirasi kamu dan memotivasi kamu lebih baik lagi. Kenapa? karena semangatnya akan menular dalam hidup kamu. Dengan kata lain, kamu juga dapat memiliki mentor yang berdampak positif untuk hidup kamu. Saya pribadi MEMILIH untuk terus menjaga hubungan baik saya dengan beberapa dosen UPH TC yang menginspirasi saya dan memotivasi saya hingga hari ini meskipun saya sudah lulus dari UPH. Selain itu, saya juga berjejaring dengan teman-teman di media sosial yang juga memiliki hati dan passion di dunia pendidikan seperti @mhsantosa @inespuspita @laksmi_pits @kreshna @leakesuma @gurukreatif @nisafaridz dan berbagai orang yang menginspirasi saya.

3. Creating

Seringkali setelah kita berelasi, kita terjebak dalam terlibat membicarakan orang lain, komplain masalah sistem, emosi dengan sana sini. Saya sendiri tertegur setelah melihat kutipan kata mutiara ini.

Orang yang berpikiran kecil bicarain orang, orang yang rata-rata berbicara hal-hal yang berkaitan dengan masalah. Orang yang berpikiran besar dan hebat bicara tentang ide dan solusi. Coba renungkan kita ada di posisi yang mana? Setelah kamu belajar, menjalin relasi. Ciptakanlah solusi, inovasi, dan hal-hal yang dapat menyelesaikan masalah dan menjadi berkat bagi orang lain. Saya pribadi bukanlah pencipta/penemu teori pendidikan yang baru, yang saya lakukan sederhana. Ciptakan tulisan di blog dan media sosial yang menginspirasi dunia pendidikan. Di blog inilah saya berbagi pengalaman mengajar, inovasi pendidikan, dan berbagai hal yang dapat saya lakukan untuk mendokumentasikan pengalaman hidup saya. Saya pun bersama teman pelajar online berjejaring untuk mendirikan komunitas coursera Indonesia yang dapat ditemukan @IDCourserians.

4. Sharing

Terakhir, berbagi. Setelah kamu belajar, menjalin relasi, dan menciptakan solusi dan inovasi, saya pun tertantang untuk berbagi pengalaman saya dengan siapapun yang ada di sekitar saya. Salah satunya lewat sharing Gamification yang saya lakukan di sesi MeetUp @IDCourserians. Berbagi ibarat menabur, pasti akan berbuah. Di komunitas coursera Indonesia, saya banyak belajar dan mendapat pengalaman baru yang sangat memberkati hidup saya. Selain itu, ketika saya berbagi pengalaman lewat lomba Social Sciences Olympiads 2012 dan International Christian Higher Education Conference 2013 saya pun mendapat banyak pengalaman yang mengubahkan paradigma saya tentang presentasi ide dan inovasi  (Baca selengkapnya di post saya sebelumnya).  Disinilah saya belajar. “Dalam kelemahanlah Kuasa Tuhan menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9).

Demikian saya menghidupi “The Journey of Inside Out” yang menjadikan pekerjaan saya sebagai pendidik bukan lagi ‘job’ saya tetapi menjadi ‘passion’ dan ‘career’ saya.

Presentasi saya dapat diakses disini: http://app.emaze.com/235335/inside-out

Tangkapan layar 2014-03-15 21.12.24

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. dityamkm says:

    blog kakak simple ya. tapi isinya dapet. blogwalking ke sini yuk kak: themkm.wordpress.com

    1. Thanks for your constructive comments!
      Feel free juga share ke temen-temen.
      Kamu juga bisa share pengalaman kamu dari #TCCLT2014 kemarin di blog.

      Wah keren juga blog kamu. Simpel dan personal. Bahasanya kamu banget. Keep writing, keep inspiring, bro!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s