Kasih, Pengharapan, dan Iman dalam Inovasi

mtf_EhcSq_174[1]

Minggu ini saya akan membagikan refleksi saya mengenai tiga kata Faith, Hope, Love yang menjadi bahan devosi harian di dalam kelas. Saya pribadi mengajarkan konsep ini dalam devosi pagi, tetapi secara tidak sadar, saya merasa bahan devosi ini tidak sekedar ditujukan untuk murid-murid saya, tetapi juga untuk saya pribadi sebagai guru.

Seringkali dalam kehidupan ini, kita seringkali hanya fokus membangun HOPE yaitu sebuah ‘perencana’ yang merancang harapan, mimpi, ide dan berbagai macam hal yang coba kita rancangkan dalam kehidupan kita.  Setelah punya harapan, kita juga hanya terbatas fokus pada FAITH yang diterjemahkan sebagai ‘teknisi’ yang membuat segala sesuatunya mungkin dengan keoptimisian dan kepercayaan diri yang tinggi. Kita berusaha dengan segenap hati untuk membuat harapan-harapan kita terwujud dengan iman dalam bentuk tindakan-tindakan nyata yang besar.

Sebagai guru yang idealis cenderung saya punya banyak harapan untuk memajukan kualitas pendidikan mulai dari kelas saya, dengan berbagai macam objektif/tujuan pembelajaran yang kreatif dan inovatif dan bermakna bagi siswa. Saya juga cenderung punya langkah iman yang besar untuk berani melakukan inovasi-inovasi melalui penugasan dan proyek serta metode mengajar yang kreatif.

Namun, saya sadar seringkali HOPE+FAITH berjalan tanpa satu elemen terpenting yang sering terlupakan yaitu LOVE.  Padahal Firman Tuhan mengajarkan dengan jelas, mengatakan bahwa Kasih terlebih besar dari iman dan pengharapan Lewat komik di atas, kita perlu sadar bahwa LOVE (kasih) lah yang menjadi bos dalam menjalankan faith dan hope yang kita miliki. Tanpa Kasih, saya rasa harapan dan iman kita hanya berjalan tanpa arah bahkan seringkali berjalan sendiri dengan hampa. Karena Cinta adalah alasan kita memiliki harapan dan iman untuk mewujudkan impian kita.

Kasihlah yang memampukan kita bermimpi untuk memberkati banyak orang dengan talenta kita. Kasihlah yang memampukan kita melakukan pekerjaan dan tindakan iman yang kita lakukan sekarang. Tanpa kasih, ibarat kehilangan nafas yang menjalankan iman dan harapan. Dengan Love, kita tidak sekedar berharap akan menciptakan perubahan dahsyat dan sensasional yang mengangkat nama kita sendiri, kita tidak sekedar beriman melakukan metode mengajar, proyek, dan tugas yang ambisius untuk kepentingan idealisme kita semata. Dengan kasih, kita akan merefleksikan apakah metode yang kita ajar tepat (Appropriate), berarti (Meaningful), dan juga memaksimalkan potensi dan bakat siswa (Empowering)? Bukan artinya kasih membatasi kita, tetapi justru kasihlah yang akan menjadi ‘penunjuk arah’ dan ‘alasan’ kita mengajar, melakukan inovasi, dan menjadi berkat bagi murid-murid kita.

Semakin berjalannya tahun mengajar, saya semakin sadar semangat muda yang idealis ini terkadang dipenuhi iman dan harapan yang begitu besar, namun hari ini saya disadarkan bahwa kasih haruslah menjadi landasan penggerak iman dan harapan kita untuk melangkah membuat perubahan dan inovasi. Di tengah derasnya arus inovasi dan kreativitas dalam dunia pendidikan, saya mengajak kita sama-sama merenungkan apakah kita sedang melakukannya atas dasar iman semata, harapan semata, atau iman dan harapan, atau kasih yang menggerakan iman dan harapan kita?

“But the greatest of these is LOVE.” 1 Cor 13:13 NIV

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s