Mengubah Paradigma Riset

Pada hari Rabu, 13 Februari 2013, sekolah saya mengadakan seminar yang bertema tentang penelitian yang ditujukan untuk mempersiapkan siswa untuk membuat penelitian. Seminar ini dibawakan oleh Bapak Niko Sudibjo sebagai Kepala Program Magister Pendidikan di UPH. Pada awalnya, saya merasa seminar ini hanya memberikan dasar-dasar penelitian semata yang mengungkap teori, metode, dan berbagai petunjuk tentang penelitian itu sendiri. Namun, ternyata seminar ini  lebih dari sekedar membagikan pengetahuan penelitian semata.  Dengan pengalaman nyata dan inspiratif, siswa maupun guru disadarkan akan tiga hal penting yang seringkali dilupakan pada saat melakukan penelitian.

1. Penelitian itu menyenangkan. Seringkali kita menganggap penelitian ini menjadi beban atau hanya sekedar tuntutan kelulusan dan nilai semata dimana penelitian ini akan diuji dan dibantai habis oleh dosen penguji yang mencari celah ataupun kesalahan. Hal inilah yang seringkali membentuk paradigma yang keliru tentang penelitian dalam pendidikan di Indonesia. Ketika saya melihat mahasiswa s1 maupun s2 yang mengerjakan skripsi maupun tesis seringkali yang saya temukan adalah rasa takut, kuatir, cemas, dan berbagai perasaan negatif yang meliputi mereka sejak awal penelitian sampai akhir revisi pun menjadi mimpi buruk bagi mereka. Tak jarang, hal ini yang membuat penelitian menjadi ketakutan tersendiri bagi mahasiswa ataupun siswa yang seringkali akhirnya menjadi trauma yang membuat siswa kapok meneliti.

Saya rasa sudah saatnya dosen maupun guru yang membimbing maupun menguji penelitian mengubah paradigmanya yang seakan ingin menguji mental dengan maksud menjatuhkan penelitian siswanya. Yang terpenting justru bagaimana siswa dapat memiliki rasa percaya diri membagikan hasil risetnya dan menganggap riset menjadi hal yang menarik, menyenangkan, dan menantang siswa untuk berinovasi dan berkreasi. Jangan sampai intimidasi kita justru menjatuhkan mereka tetapi jika ada kekurangan apapun kita perlu menuntun dan mendukung mereka untuk mencapai hasil yang lebih maksimal. Kemudian, guru dan dosen pun memberikan masukan yang lebih membangun dan menyempurnakan karya. Saya rasa sidang skripis ataupun thesis seharusnya bukan dimaksudkan mencari kesalahan ataupun kelemahan, tetapi memotivasi mereka untuk meningkatkan keahlian penelitian mereka.

2. Penelitian itu berharga. Di Indonesia, riset seringkali menjadi pekerjaan yang tidak dipandang, bahkan seringkali diabaikan. Padahal riset di luar negeri menyimpan sejuta potensi yang memiliki nilai yang tinggi.  Bahkan, banyak perusahaan luar negeri yang siap membayar mahal  untuk membeli dan melaksanakan penelitian. Sayangnya yang terjadi di Indonesia, kebanyakan siswa maupun mahasiswa  gagal meneliti karena kurangnya dana, pengakuan, bahkan penghargaan akan penelitian tersebut. Penghargaan inilah yang justru seharusnya diberikan kepada siswa-siswa yang memiliki bakat-bakat dalam meneliti ini yang diperlukan untuk memotivasi siswa untuk berlomba-lomba menghasilkan inovasi yang terbaik.

Saya mengusulkan setidaknya di SMA, kita dapat memberikan penghargaan khusus untuk penelitian siswa yang terbaik dengan menerbitkan buku berisi kumpulan abstrak dari penelitian, karya tulis, artikel karya siswa yang terbaik yang dapat dipamerkan di perpustakaan. Selain itu, kita dapat mengadakan sidang penelitian lebih dari sekedar tanya jawab saja, tetapi menantang siswa membagikan dan memamerkan hasil penelitiannya di hadapan siswa, guru, dan juga orang tua. Jangan biarkan siswa hanya mengalami trauma yang menyakitkan tentang penelitian. Biarkan mereka bahwa penelitian adalah berbagi ilmu.  Hal ini tentu akan memberikan nilai tersendiri yang tidak akan terlupakan bagi siswa maupuan mahasiswa.

3. Penelitian itu perlu dipublikasikan. Bukan riset namanya jika hanya disimpan di kolong tempat tidur. Satu hal yang paling memorable dari seminar ini adalah betapa pentingnya publikasi penelitian. Seringkali banyak sekali penelitian Indonesia yang brilliant hanya disimpan karena kurangnya penghargaan dan intimidasi yang mengurangi rasa percaya diri peneliti. Padahal dengan berani menerbitkan hasil penelitian, hal ini justru dapat dinikmati lebih banyak orang-orang yang ada di sekitar kita. Selain merasa dihargai, peneliti sudah menjadi berkat bagi banyak orang yang membaca penelitian tersebut. Penelitain menjadi sangat bermanfaat dan berdampak bagi orang-orang yang membacanya. Saya rasa dengan mengadakan eksbisi penelitian siswa, menerbitkan buku riset siswa, dan menyebarkannya mulai dari komunitas siswa sampai guru dan orang tua lain akan merangsang lahirnya peneliti muda yang berprestasi di SMA. Sudah saatnya, siswa tidak hanya sekedar membaca buku pengetahuan saja, tetapi juga buku-buku penelitian yang mengembangkan inovasi dan kreativitas siswa.

Akhir kata, saya rasa inspirasi  meneliti inilah yang perlu disebarkan kepada guru dan siswa. Sebagai guru, saya pun tertantang untuk melangkah lebih maju lagi dengan mulai melakukan penelitian. Saya merekomendasikan untuk SMA-SMA di Indonesia  mulai berani mengadakan kurikulum berbasis penelitian yang justru menantang siswa mencari sendiri pengetahuan  dengan melakukan penelitian yang dapat dipublikasikan dengan pameran dan buku yang dapat menginspirasi siswa untuk mengembangkan budaya riset sejak dini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s