Ide Kreatif Membangun Budaya Riset Siswa

(Sumber Gambar: www.fletcher-prince.com)

Ujian Nasional seringkali mendidik siswa kita  menjadi pembelajar pasif yang memandang hidup ini seperti soal-soal dengan satu pilihan jawaban yang tepat berdasarkan teori yang sudah disediakan di buku cetak. Padahal dalam kehidupan nyata, seringkali kita menghadapi berbagai macam pilihan jawaban alternatif  dan kreatif dalam memecahkan permasalahan hidup ini yang tidak terdapat pada buku cetak.  Akibatnya, siswa lulusan UN hanya ingin mencari jalan pintasnya saja untuk mencari jawaban yang paling tepat tanpa menikmati proses pencarian jawaban  dalam memaknai suatu topik dalam pembelajaran.

Namun sebagai guru kreatif, belum terlambat untuk mematahkan paradigma generasi pencari jawaban ini dengan menciptakan budaya riset pencipta jawaban. Budaya riset menjadi salah satu cara memaknai kehidupan ini yang penuh dengan berbagai jawaban yang bertebaran di mana-mana. Untuk membangun budaya riset ini, guru harus keluar dari zona nyamannya yang terdapat dalam buku cetak atau buku soal dimana buku cetak dan buku soal hanya sebagai buku pengantar siswa dalam melakukan riset. Lantas bagaimana cara kita membangun budaya riset di kelas kita? Berikut adalah cara menarik yang dapat membangun budaya riset siswa dengan memberikan beberapa tugas sebagai berikut:

1. Cari artikel yang aktual, relevan, dan menarik di media sosial

Untuk memulai membangun budaya riset, kita tidak bisa lagi sekedar memaksa siswa mencari berita sekedar di koran. Di zaman serba gadget ini, jadikanlaha budaya riset sebagai lifestyle dengan mendorong siswa mencari berita  tentang topik-topik yang kita pelajari di sekolah melalui media sosial seperti twitter, google+, pinterest, youtube, wordpress. . Biarkan mereka mencari penerapan kehidupan sehari-hari dari topik yang dipelajari dengan media yang dekat dengan kehidupan mereka,Hal ini ditujukan untuk membuka wawasan mereka bahwa riset bukanlah hal yang ribet dan menyusahkan, malah riset simpel dan menyenangkan. Dengan genggaman gadget di tangan kita, kita dapatmelakukan riset berita-berita aktual, relevan dan menarik kapan saja, dimana saja, dalam bentuk apapun. Artikel bisa dalam bentuk kicauan,  tulisan, berita, opini, gambar, video, dan berbagai hal kreatif yang dapat menjadi jawaban dari wawasan kita. Sudah saatnya, jawaban bukan lagi A, B, C, D, E tetapi dalam bentuk jawban-jawaban yang unik, kreatif, dan menarik di media sosial.

2. Presentasikan artikel sosial media di depan kelas

Berikan kesempatan kepada siswa membagikan hasil risetnya di depan kelas untuk menciptakan ‘kebanggaan’ tersendiri akan hasil risetnya. Saya rasa hal ini yang hilang dari lulusan UN. Kebanggaan akan hasil riset menjadi langka dengan terbatasnya siswa pada kunci-kunci jawaban dari buku cetak. Dengan kesempatan presentasi hasil riset sederhana ini melatih siswa berbagi inspirasinya dengan teman-temannya yang tentu saja mencerminkan keunikan siswa tersebut. Misalnya saja ada siswa yang lebih suka mempresentasikan artikel dalam bentuk tulisan, gambar, video yang menunjukkan minat dari siswa tersebut. Disini siswa juga dapat mempromosikan hal-hal yang mereka sukai dari apa yang mereka temukan di riset mereka. Dengan kecintaan inilah, akan menyebar semangat riset yang menular kepada siswa lain.

3. Pamerkan hasil riset ini di dunia maya dan di dunia nyata

Setelah dipresentasikan, siswa dapat memilih artikel mana yang akan dipamerkan di akun media sosialnya baik di facebook, twitter, pinterest atau youtube. Dorong siswa untuk membagikan hasil penemuannya bukan hanya di kelas tetapi juga dengan teman-temannya di media sosial. Selain itu, siswa juga dapat membagikan hasil risetnya dengan mencetak dan menempelnya di class board agar selalu mengingatkan siswa yang masuk tentang hasil risetnya. Dengan begitu siswa akan merasakan kepuasan  “ownership” (kepemilikan) akan materi yang ia pelajari yang menjadi bekal long-life learning dalam materi tersebut.

Pada akhirnya,  saya yakin jika setiap pelajaran dapat menerapkan cara-cara di atas untuk menumbuhkan budaya riset ini, siswa kita tidak hanya terbatas menjadi generasi UN pencari jawaban, tetapi disinilah awal mula mereka menciptakan jawaban-jawaban aktual, menarik, kreatif, relevan, dan unik yang dapat menyelesaikan berbagai permasalahan di bangsa ini. Selain akan menumbuhkan kecintaan akan pelajaran tersebut, budaya riset ini juga akan menjadi bekal awal yang akan dibawa hingga kuliah maupun kerja yang tentu akan membutuhkan lebih banyak riset yang lebih menantang siswa. Sudah saatnya,  siswa bukan lagi dinilai hanya berdasarkan kemampuannya mengerjakan soal, tetapi kemampuannya mencari, mempresenasikan, dan membagikan hasil riset mereka. Suatu saat nanti, saya berharap negara tidak lagi menerapkan standar kelulusan siswa yang mengerjakan soal pencari jawaban tetapi standar kelulusan siswa yang melakukan riset pencipta jawaban.

Mari ciptakan generasi pencipta jawaban dengan membangun budaya riset siswa!

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Tsahid says:

    Blog Bapak amat membantu wawasan kami, langkah2 dalam gerak pendidikan bs kami coba di sklh kami. Terima kash, Pak.

  2. Tsahid says:

    Reblogged this on MTs. Attauhid Babelan and commented:
    ide kreatif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s